Entri yang Diunggulkan

kita yakin, kita bisa

                              Tulisan Yang Menjadi Sebuah  Doa Assalamaualaikum sahabat ku … Ketemu lagi diblog keduaku but blog pe...

Jumat, 29 November 2019

kita yakin, kita bisa

                             Tulisan Yang Menjadi Sebuah  Doa

Assalamaualaikum sahabat ku …
Ketemu lagi diblog keduaku but blog pertamanya aku hapus, karena menurut aku ada banyak yang perlu di perbaiki hehe, selamat membaca semoga ya mengisnpirasi :) ini adalah sedikit kisah ku...

         Pada bulan September 2017 lalu ada sebuah informasi bahwa akan ada sebuah perlombaan yang diadakan di Bandung. Ketika aku ingin mengambil air wudhu untuk salat  dhuha, aku bertemu dengan  ibu guru, kemudian beliau mengatakan“ Oiya saya dapat informasi kalau ada perlombaan di Bandung,  kemarin saya bilang keteman kamu Milea, kalau dia saya suruh ikut lomba pidato bahasa inggris, karena saya pikir bahasa inggrisnya  cukup bagus”. Dalam hatiku, rasanya aku ingin sekali ikut perlombaan itu, tapi perlombaan itu tingkat Internasional, sementara kemampuan bahasa inggrisku masih begitu dasar.
Selesai salat aku pergi menuju admisnistrasi sekolah untuk membayar SPP. Tidak lama kemudian saat aku berjalan, guru bimbingan konseling memanggilku” Rifka! ke sini, ada yang mau bapak bicarakan”. “ Baik pak. Waduh guru BK, ada apa ya ?” dalam hatiku. ” Sebentar lagi ada perlombaan International  Olympiad of Qur’an, Art and Technology di Bandung, disitu ada perlombaan pidato bahasa inggris, kamu nanti ikut seleksi ya bersama Edi dan Zaki  soalnya si Milea mabuk perjalanan jauh, jadi tidak bisa ikut”. “ Benar begitu pak? Baik, nanti saya akan mengikut seleksi pak ” ini bukanya yang di bilang bu guru waktu wudhu tadi. Hatiku rasanya seperti berbunga-bunga dan berharap lulus seleksi. “ seleksinya nanti siang ya, silahkan teksnya disiapkan dan datang ke ruangan saya, jangan lupa bilang ke Edi dan Zaki“ kata pak guru.
” Baik pak” jawabku dengan perasaan senang. Aku langsung menuju ke asrama untuk mengambil teks pidato yang aku punya, untuk persiapan seleksi. Aku kembali ke kelas untuk melanjutkan mata pelajaran. Setelah selesai mata pelajaran, aku memutuskan untuk mengambil surat dispensasi untuk mengikuti seleksi bersama Edi dan Zaki. Alhamdulillah aku masih ingat dengan naskah pidato yang pernah aku pakai sebelumnya dalam sebuah perlombaan.  Aku mempersiapkan diriku dengan baik, dan gerakan tubuh saat berpidato.” Baiklah siang ini saya akan memilih salah satu di antara kalian yang akan berangkat ke Bandung untuk megikuti lomba pidato bahasa inggris” kata pak guru.
Satu persatu dari kami berpidato dengan kemampuan dan gaya masing-masing. Aku mendapat giliran terakhir. Saat giliranku tiba, aku mencoba untuk memaksimalkan kemampuanku dalam berpidato. Aku sangat berharap aku bisa terpilih dalam seleksi ini. Setelah selesai, pak guru langsung mengambil keputusan untuk memilih salah satu diantara kami.
” Setelah bapak melihat penampilan kalian. Semuanya bagus, memiliki gaya penyampaian yang baik dengan kemampuanya masing masing,  tapi bapak harus memilih salah satu di antara kalian. Jadi, bapak memutuskan yang akan berangkat ke Bandung adalah Rifka” kata pak guru.
Alhamdulillah ya Allah akhirnya aku bisa berangkat, rasa senang ini tidak bisa dibendung. Sebelumnya aku merasa kemampuanku tidak sebanding dengan temanku yang lebih pandai, tapi keyakinan dan doaku selama ini Allah kabulkan. Persiapan menuju lomba aku persiapkan dengan matang dalam waktu satu bulan, kali ini ada yang berbeda dengan naskah pidatoku, karena terdapat persyaratan untuk mencantumkan ayat Alquran didalamnya. Setelah aku mencari naskah yang sesuai dengan ketentuan, aku bertanya pada guru bahasa inggrisku untuk mengoreksi naskah pidatoku.
Tidak hanya itu, tapi aku juga meminta bantuan senior untuk mengoreksi  gaya bicara, intonasi suara dalam berpidato. Setiap hari, aku melakukan evaluasi apa saja yang harus aku perbaiki. Meminta surat dispensasi untuk berlatih, hampir disetiap waktu luang aku selalu membaca dan  menghafal naskah. Aku pun bersama sahabatku saling menyemangati, karena dia juga merupakan peserta yang akan mengikuti perlombaan di Bandung. Sahabatku mengikuti perlombaan di bidang tahfidz Alquran. Setelah sebulan dengan persiapan yang matang, tiba waktunya untuk berangkat, tidak lupa aku meminta doa kepada orang tuaku memohon doa restu agar selamat sampai tujuan dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku bersama teman-teman yang lain memasuki bus.
 Ketika di dalam bus aku saling bertatap muka dengan sahabatku dan tersenyum, aku meminta temanku untuk mencubit pipiku “ aku tidak mimpikan? Kita tidak mimpikan? Naik bus tanpa bayar dan mengikuti lomba keluar provinsi Lampung”  Ucapku senang dan begitu gembira, karena ini adalah salah satu mimpi yang pernah aku tulis di selembar kertas, dan bisa terwujud menjadi kenyataan.” Tidak, kamu tidak mimpi, kita benar-benar akan berangkat ke Bandung” jawab sahabatku dengan perasaan senang. Bus mulai berjalan, kami menikmati perjalanan dengan riang gembira. Tidak terasa, setelah merasakan lamanya perjalanan, pukul 06.00 keesokan hari, kami tiba di Bandung dan berhenti di masjid raya Bandung untuk bersiap berganti pakaian dan melanjutkan perjalanan menuju lokasi perlombaan.
 Aku dan sahabatku berpisah karena kita berbeda tempat. Pukul 10.00 aku tiba di tempat lokasi perlombaan, aku didampingi oleh pak guru menuju ruangan. Jantungku berdegup kencang, rasa gugupku mulai menjalar keseluruh tubuh, tapi aku harus bisa mengontrol, karena kesempatan tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Setelah melihat selembar kertas yang ada dipintu ruangan, aku mendapat nomor urut peserta 25. Aku mencoba menenangkan diri dan terus membaca naskah pidato. Setelah melihat bebagai macam gaya teman-teman peserta lain, sekarang giliranku untuk maju.
Tidak lupa mengucap bismillah dan berdoa, aku maju ke podium dengan percaya diri. aku melakukan kesalahan di awal mulai aku berpidato” oh tidak, apakah ini akan fatal?” dalam hatiku. Aku mengucap artikulasi yang salah dalam memberi penghormatan kepada juri, tapi aku mencoba untuk tetap percaya diri dan meneruskan dengan baik. Alhamdulillah Allah berikan suara yang lumayan enak untuk didengar, sehingga aku bisa melantunkan ayat Alquran dengan menggunakan nada. Juri mendegarkan lantunan ayat yang aku bacakan dengan hikmat dan tersenyum.
” Alhamdulillah kesalahanku di awal tidak terlalu dipedulikan” dalam hati, dengan melanjutkan intonasi penegasan pada terjemahan ayat dan menutup pidato dengan baik. Aku berpikir, apapun hasilnya aku sudah berusaha latihan dengan maksimal, semoga hasilnya tidak mengecewakan. Setelah perlombaan selesai aku berkenalan dengan teman-teman peserta lainya. Aku senang karena bisa bertemu teman-teman dari berbagai Negara dan provinsi, ada yang berasal dari Vietnam, Malaysa, Aceh, Malang, Papua, Kudus dan masih banyak lagi.
Aku bersyukur bisa mendapat pengalaman yang sangat berharga.  Setelah itu aku bersama rombongan dan guru pendamping melaksanakan shalat dzuhur dan makan siang. Kemudian kami bersih-bersih dan beristirahat. Tidak terasa matahari mulai terbenam, aku bersama rombongan melaksanakan salat isya dan bersenda gurau bersama. Kemudian dilanjutkan salat isya. Pukul 20.00 kami bersiap untuk mendengarkan pengumuman kejuaraan. Perlombaan ini terdapat tujuh mendali emas, tujuh mendali perak dan tujuh mendali perunggu. Aku hanya berdoa dan berharap mendapatkan hasil yang terbaik.
Pengumuman dimulai dari perlombaan cabang kaligrafi, saat disebutkan Alhamdulillah nama temanku disebut menjadi pemenang dan meraih mendali perak. Setelah dilanjutkan dengan pengumuman cabang pidato bahasa arab, rombongan kembali bersorak karena mendapatkan kembali mendali perak. Aku bahagia teman-temanku berhasil membuat bangga dan harum nama sekolah. Akupun menunggu dengan harap cemas bagaimana dengan hasilku. Selanjutnya pengumuman cabang pidato bahasa inggris, ketika di sebutkan mulai dari mendali perunggu, namaku tidak di sebut.
 Aku sedih dan berharap cemas, dilanjutkan dengan mendali perak urutan ke tujuh namaku juga tidak di sebut. Semua teman-temanku berusaha menenangkanku dan mengucap ” yang sabar ya, mungkin sebentar lagi namamu akan dipanggil”. Berusaha menghibur diriku, kemudian dilanjutkan pengumuman mendali emas dari urutan ke tujuh namaku pun tidak juga di sebutkan, sampai pada akhirnya kakak panitia mengumumkan mendali emas dengan nomer urut dua diraih oleh Rifka Nida Annisa. Ya Allah berlinang air mata ini, aku tidak menyangka bahwa aku bisa, Alhamdulillah aku ucapkan, rasa syukur yang tidak berhenti terucap dari mulut ini.
 Teman –temanku semua bersorak dan mengucapkan” Selamat rifka, kamu berhasil” aku senang bercampur rasa terharu. Pak guru kemudian mengambil kamera dan memintaku tersenyum untuk mengambil gambar dokumentasi. Malam yang indah bercampur rasa bahagia dan terharu ketika panitia mengalungkan sebuah mendali di leher kami. Setelah itu aku bersama rombongan berfoto bersama. Aku dan teman-temanku  langsung menhubungi kedua orang tua kami masing-masing dengan penuh rasa bahagia. Kami mengambil foto bersama dengan penuh ceria sebelum  keesokan harinya kami pulang.
Pagi hari yang cerah aku bersama rombongan berkemas-kemas pulang dan tidak lupa membawa oleh-oleh. Ketika perjalanan pulang, aku tiba-tiba  merenung, aku tidak menyangka bahwa aku akan membawa pulang mendali emas ini. Aku pikir aku sedang bermimpi, ternyata aku memang sedang bermimpi, tapi bukan dalam tidur, melainkan bermimpi dan mewujudkanya menjadi sebuah kenyataan. Aku merasa, bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha, meski awalnya kemampuan kita tidak dipercaya, tapi jika kita memiliki kemauan, tekat yang kuat, sesulit apapun akan bisa kita lewati.
           Dulu aku hanya bermimpi, menulis dan berpikir bahwa yang aku tulis pada selembar kertas hanyalah sekedar tulisan dan imajinasi semata, tapi ternyata tidak. Sekarang aku tahu  bahwa yang kita tulis itu adalah sebuah doa, dan target yang harus di capai melalui sebuah usaha.

cerita ini ga bermaksut ria ataupun sombong ya bat.. hanya sedikit share pengalaman.. semoga bermanfaat :)
kalo ada masukan dan kritik bisa isi di kolom komentar  ya bat ... :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar